Selasa, 16 Oktober 2012

REVIEW BUKU: GESANG MENGALIR MELUAP SAMPAI JAUH


DATA BUKU
Judul               : Gesang: Mengalir Meluap Sampai Jauh
Penulis             : Izharry Agusjaya Moenzir
Penerbit           : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun              : 2010


            Musik keroncong merupakan salah satu akar serta warisan budaya bangsa dan bisa kita sebut sebagai produk budaya tradisi lama yang berfungsi sebagai salah satu sumber system nilai atau kearifan lokal. Apabila mendengar kata keroncong maka kita akan selalu ingat tokoh keroncong legendaris asal Surakarta yaitu Gesang.
Buku yang ditulis oleh Izharry ini memaparkan perjalanan hidup Gesang sejak awal  kecintaannya terhadap musik keroncong. Dulunya Gesang bernama Soetadi namun karena saki-sakitan maka bapaknya mengusulkan mengganti nama Soetadi menjadi Gesang karena Soetadi dinilai tidak cocok dan terlalu berat .Dalam bahasa Jawa, gesang berarti hidup.setelah namanya diganti menjadi Gesang, ia pun tak sakit-sakit lagi.
Gesang berasal dari keluarga sederhana di Singosaren, Surakarta. Bapaknya penjual batik yang tidak terkenal di tempatnya. Gesang disuruh berhenti sekolah oleh bapaknya dan bekerja jualan batik. 
Semuanya berawal ketika teman-temannya mendesak Gesang agar menyanyikan lagu Keroncong Sapu Lidi di tempat orkes Marko. Ternyata respon penonton pada saat itu menyukai suaranya. Dan kemudian ia semakin dikenal orang. Gesang pun tampil secara langsung di SRV (Solo Radio Vrenekin).  Ia sering menyendiri menulis lagu-lagu dan terinspirasi dari keadaan sekitar. Ada sekitar 40 lagu ciptaan Gesang yang menunjukan betapa jeniusnya pria kelahiran Surakarta ini.  Lagu-lagunya ditulis pada waktu yang berbeda yaitu pada saat masih dijajah Belanda dan Jepang, serta di zaman merdeka. Ada lagu “Sapu Tangan’ (1941) ‘Bilamana Dunia Berdamai’ (1942), dan ‘Caping Gunung’ (1973). Namun lagu yang menjadi masterpiece dan favorit semua orang kala itu adalah ‘Bengawan Solo’ yang bercerita tentang Solo dan sungai yang melintasinya. Ia membuat sungai solo itu terkenal ke seluruh dunia. Tanpa Gesang, bengawan solo hanyalah sebuah sungai biasa.
Setelah berakhirnya Perang Dunia II, Gesang pernah menjadi anggota Palang Merah Indonesia (PMI) dan bertugas di Singosaren. Pada saat itu juga ia meninggalkan kegiatan musiknya. Tidak pernah menyanyi lagi. Tapi kemudian Gesang pernah menghadiri misi kesenian ke China dan Korea Utara. Disana ia memperkenalkan music keroncongnya.
Kehidupan asmara Gesang juga di ceritakan dibuku ini bahwa Gesang pernah memiliki kisah percintaan dengan gadis penyanyi ketika mereka bertemu di panggung hiburan. Namun pada akhirnya ia menikah dengan Walinah atau Inah gadis yang keluarganya sama-sama penjual batik yang tinggal dekat rumahnya. Namun pada akhirnya mereka bercerai tanpa menghasilkan keturunan.
                Gesang pernah didatangi seorang Jepang, Mitsuo Hirano . Ia mengaku pernah melihat Gesang menyanyi. Ia yang mengatakan kepada Gesang bahwa lagu Bengawan Solo sangat popular di Jepang. Para tentara Jepang di Indonesia juga menyukai bahkan masih mengahafal lagu itu. Mereka sering menyanyikan sekaligus memperkenalkannya. Para kanak-kanak di Jepang juga menyukai ‘ Bengawan Solo’ meskipun versinya disana menggunakan bahasa Jepang. Mitsuo Hirano lah yang mengusulkan tentang yayasan Perhimpunan Danan Gesang di Jepang. Karena melihat kehidupan Gesang yang tidak layak dan tinggal sebatang kara. Maka dari yayasan itu lah Gesang mendapatkan santunansetiap tahunnya dari pemerintah Jepang karena berhasil memperkenalkan musik keroncong di sana.
                Buku biografi yang ditulis oleh Izharry ini patut diberi apresiasi tinggi karena telah mengangkat profil seorang pahlawan musik keroncong agar semua orang mengenal sosoknya. Gesang wafat pada tahun 2010 lalu, dan biografi ini pun mutlak dibutuhkan ketika kita kehilangan sosoknya. Bahasa buku ini pun cukup puitis, tapi tidak mengurangi pembaca untuk memahami maknanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger