Selasa, 29 Oktober 2013

KALEIDOSCOPE


Tiga tahun lalu, aku baru menjadi mahasiswa. Tergabung sebagai kaum intelektual, katanya. Meskipun pada kenyataannya aku hanya seorang biasa yang senang bercengkrama dengan sesama bukan menjadi aktivis muda yang  suka dipuja. Aku lebih suka diskusi meskipun bicara soal harga terasi daripada berlagak untuk orasi.
                                                                        ***
Di selasar Fakultas Ilmu Sosial UNJ. Aku pertama kali melihatmu, sesosok lelaki sederhana berambut gondrong sebahu, berkacamata, berperingai diam nampaknya tak suka bercerita. Tidak angkuh. Hanya jarang tertawa. Belakangan baru kuketahui, kita dalam satu jurusan dan program studi yang sama.
                                                                        ***
Di kelas mata kuliah sejarah Afrika. Kita ditakdirkan  untuk satu semester bersama meskipun disaat itu kita angkatan yang berbeda, aku satu tahun lebih muda dari usia mu yang lebih tua. Ku lihat di daftar absen mahasiswa ternyata namamu Miftahul Huda. Sorenya, ku cari namamu di dunia maya. Yang kemudian menjadi tempat kita saling menyapa .
                                                                        ***
Aku ingat tempat pertama kali aku kencan dengan dirimu. Bukan di ruang tamu. Tapi di toko buku tempat gudangnya ilmu. Setelah itu kita ngopi tapi bukan karena dijamu sebagai tamu, tapi di kedai starbucks aku ditraktir olehmu. Kita mengobrol tanpa jemu. Ternyata aku sadar, aku suka melihat matamu. Diam-diam aku jatuh cinta padamu.
                                                                        ***
Setelah pulang kuliah. Hari itu, hari Jumat. Hari yang buat aku semangat. Karena kau bilang ingin lebih dekat tanpa ada sebuah sekat.
Kau mengajakku pulang bersama dengan tunggangan kendaraan roda dua. Di Taman Menteng, kau berucap rindu, aku tak percaya. Menghadiahkanku boneka koala dengan ucapan cinta yang sekedarnya saja. Ah, nirwana!
***
Selang beberapa bulan kita menjalin asmara, ternyata dilanda sebuah perkara. Setelah bertemu di satu acara. Mamamu bilang, dia kurang selera dengan perempuan yang kamu pelihara. Mungkin mamamu ingin perempuan juara, kalau bisa yang cantik seperti artis Korea. Setelah kamu bercerita, aku hanya diam tak bersuara. Shock seperti baru masuk penjara.


Senin, 28 Oktober 2013

HUJAN

Sementara hujan di luar menderu, ku sentil rindu supaya malam ini tak lagi sendu.



=====
28102013
Eka Sari Handayani

Minggu, 27 Oktober 2013

PAGI, SEBELUM SENIN


Pagi, sebelum Senin

Ku nikmati secangkir espresso berkafein

Mengudap choco chips pada pucuk muffin

Tergelak oleh komedi Chaplin 

Relaks, melepas endorfin


=======
27102013
Eka Sari Handayani


Sabtu, 26 Oktober 2013

KRISIS SEMANGAT


Ringkih, penuh keringat

Letih melumat

Jenuh mencuat

Aku tak lagi giat


======
26102013
Eka Sari Handayani


Kamis, 24 Oktober 2013

DICUMBU SUNYI


Tak sudi aku di cumbu sunyi!

Hati pilu menderu, semakin dalam didekap rindu 

Apakah pelukmu  masih sehangat dulu? 

Mari sini sayangku,  

Datanglah di hari sabtu 

Aku menunggumu di ruang tamu


======
24102013
Eka Sari Handayani

Senin, 21 Oktober 2013

KUTIPAN FAVORIT

Tiada yang lebih puitis selain bicara pada kebenaran .
~Gie~

Hidup adalah soal keberanian, menghadapi tanda tanya tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar dan hadapilah.
~Gie~

No History ! No Future !
~Komunitas Historia Indonesia~

Mendidik adalah tugas konstitusional negara, tetapi sesungguhnya mendidik adalah tugas moral tiap orang terdidik
~Indonesia Mengajar~

Dari perempuanlah manusia pertama kali menerima pendidikan dan makin lama makin jelas bagiku bahwa pendidikan yang pertama kali itu bukan tanpa arti bagi seluruh kehidupan. Dan bagaimana ibu-ibu bumiputera dapat mendidik anak-anaknya,jika mereka sendiri tidak berpendidikan ?
~R.A Kartini~

Jika kami menginginkan pendidikan bagi kaum perempuan itu bukan karena kami ingin menjadikan perempuan sebagai saingan lelaki. Tapi ingin menjadikan perempuan lebih cakap melakukan tugas besar yang diberikan Ibu Alam ke tangannya agar menjadi ibu : pendidik umat manusia yang utama.
~R.A Kartini~

Perubahan tidak akan datang jika kita menunggu orang lain atau lain waktu.kita sendiri adalah orang yang kita tunggu-tunggu.kita adalah perubahan yang kita cari.
~Barrack Obama~

Karena setiap aksara membuka jendela dunia
~Efek Rumah Kaca~

Belajar ketika orang lain bermain,bekerja ketika orang lain bermalasan dan bermimpi ketika orang lain berharap
~William A.Ward~

Senin, 14 Oktober 2013

KI HAJAR DEWANTARA "Perintis Kemerdekaan Dalam Bidang Pendidikan”



DATA BUKU
Judul Buku                 :  Ki Hajar Dewantara
Pengarang                   :  Darsiti Soeratman
Penerbit                       :  Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan
Tahun Terbit               : 1989


Profile
Ki Hajar Dewantara, pada waktu mudanya bernama R.M Soewardi Soerjaningrat lahir di Yogyakarta pada hari Kamis Legi, tanggal 2 Puasa 1818 atau 2 Mei 1889. Soewardi berasal dari lingkungan keluarga Keraton Yogyakarta.Ia merupakan cucu dari Paku Alam III.Keluarga Paku Alam termasuk keluarga yang maju, Seluruh putera dalam lingkungan itu dikirim ke Sekolah Belanda. Soewardi tidak terkecuali, Ia menamatkan pendidikan dasar di ELS Kemudian sempat melanjut ke STOVIA, tapi tidak sampai tamat karena sakit. Kemudian ia terjun di bidang jurnalistik bekerja sebagai penulis dan wartawan di beberapa surat kabar, antara lain Sedyo Utomo (berbahasa Jawa) di Yogyakarta, Midden Java (Berbahasa Belanda) di Bandung dan De Expres (Berbahasa Belanda) di Bandung. Pada masanya, ia tergolong penulis handal. Tulisan-tulisannya komunikatif dan tajam dengan semangat antikolonial.
Status sosial Soewardi ialah aristokrat Pakualam.Oleh karena itu, lumrah apabila ia lebih peka dalam menentang ketidakadilan sosial dan diskriminasi yang merajalela. Ini yang mendorong ia mengambil tindakan demi memperbaiki situasi dengan membangun kesadaran masyarakat bangsanya dengan ide dalam tulisannya.[1] Menurut pendapatnya juga , Bangsawan tidak boleh hidup bermalas-malasan, dan harus berusaha agar hidupnya dicontoh oleh banyak orang. Seorang bangsawan adalah ksatria atau pejuang yang harus memajukan dunia dari segala yang jelek.
Awal Pergerakan Politik
Selain ulet sebagai jurnalis, ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Sejak berdirinya Boedi Oetomo tahun 1908, ia aktif dalam menyosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia (terutama Jawa) pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Soewardi Soerjaningrat memiliki pemikiran atau pandangan menjunjung tinggi kebudayaan Jawa (Jawasentris).Ia menyebarkan nilai-nilai kebudayaan masyarakat keraton.Keyakinan Soewardi mengenai nilai-nilai kebudayaan Jawa sebagai suatu sumber yang cukup untuk membangun integritas dan kesadaran nasional rakyatnya.[2]Soewardi muda juga menjadi anggota organisasi Insulinde kemudian juga menjadi anggotaIndische Partij.
Dalam surat kabarDe Expres,13 Juli1913 Soewardi menulis sebuah artikel berjudul Sekiranya Saya seorang Belanda, ia secara cerdas menggunakan sudut pandang seorang Belanda yang menolak upacara peringatan kemerdekaan Belanda di Jawa, karena akan “…membangunkan keinginan dan aspirasi mereka demi terwujudnya kemerdekaan di masa mendatang…”.Tulisan tersebut, menempatkan Soewardi sebagai cendekiawan pribumi yang pertamakali melancarkan kritik secara terbuka terhadap Pemerintah Belanda. Mengingat selama ini, kritik terhadap kolonial hanya menjadi bahan diskusi terbatas kaum terpelajar dengan menggunakan bahasa Belanda, sedangkan artikel tersebut secara sengaja diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu dan dibagikan ke tengah-tengah masyarakat.Selain itu, artikel tersebut dianggap sebagai tulisan yang paling berkesan, tajam dan provokatif yang pernah ditulis pribumi saat itu. Pandangan-pandangan yang diungkapkan di dalamnya dianggap melampaui zaman, lebih maju daripada cendekiawan kebanyakan di masanya. Karena ditulis oleh seorang aristokrat-intelek Jawa, kritikan tersebut juga memiliki gaung yang dahsyat di masyarakat.
Dampak pemikirannya yang dituangkan lewat tulisan itu sempat dianggap mengancam berlangsungnya pemerintahan kolonial Belanda pada saat itu,banyak orang Belanda tidak menerima kritikannya, sehingga pemerintah mengecam dan menghukum Soewardi.Kemudian Soewardi diasingkan ke Negeri Belanda.
Periode Peralihan: Pergantian Siasat Dari  Politik Menjadi Pendidikan dan Kebudayaan
Bagi Soewardi, pengasingannya di negeri Belanda justru merupakan kesempatan besar untuk mengembangkan pengetahuannya, bakatnya dan jiwanya dengan dasar-dasar yang lebih luas dan dalam. Di negeri Belanda, Soewardi berkenalan dengan beberapa tokoh Belanda.Diantaranya adalah Mr. Abendanon, Stokvis, Jonkman, Van Deventer, Van Kol dan lain-lain.Selama pengasingan di  negeri Belanda, perhatian Soewardi tertarik pada masalah-masalah pendidikan dan pengajaran selain di bidang sosial-politik. Ia menambah pengetahuannya dalam bidang pendidikan dan pada tahun 1915 berhasil memperoleh akte guru. Ia lulus dengan nilai yang sangat baik dalam bahasa Belanda lalu ikut dalam latihan penyelenggara sekolah percobaan di Belanda.  Tokoh-tokoh besar dalam bidang pendidikan mulai dikenalnya, antara lainL JJ Rousseau, Dr. Frobel, Dr, Montessori, Rabindranath Tagore, Jhon Dewey, Kerschensteiner.
Ketika ia menjalani hukuman pengasingan di negeri Belanda, perhatiannya tidak hanya ditujukan kepada hal-hal yang bersifat politis. Masalah sosial-budaya dan khususnya mengenai pendidikan sangat menarik perhatiannya.Terutama terhadap aliran Montessori dan Rabindranath Tagore.Kedua tokoh pendidikan tersebut merupakan pembokar dunia pendidikan lama dan pembangunan dunia pendidikan baru. Bagi Soewardi, kedua tokoh tersebut dianggapnya sebagai penunjuk jalan untuk usahanya dalam membangun aliran pendidikan baru yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia. Mengingat adanya perhatian yang dicurahkan kepada bidang pendidikan disamping bidang politik, maka periode selama di negeri Belanda itu merupakan periode peralihan.
Dengan keahliannya dalam bidang politik Soewardi menggunakan kesempatan yang ada untuk mengeluarkan pendapat tentang pengajaran kolonial dan pembaharuan-pembaharuan yang harus ditempuh ke arah kemerdekaan bangsa.Selama di Belanda pun, Pemikiran Soewardi tetap konservatif.Dalam sebuah artikel“ Bahasa dan Bangsa” dalam majalahHindia Puteraia menuliskan pandangannya yang kontra dengan teman seperjuangannya dr. Tjipto Mangunkusumo yang menghendaki bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar pada sekolah-sekolah Bumiputera. Alasan dr.Tjipto ialah untuk keperluan membentuk keadaan demokratis pada masyarakat kita, maka bahasa Jawa harus dibuang jauh-jauh  dan diganti dengan bahasa Belanda. Seandainya teori dr. Tjipto itu benar, Soewardi mempersoalkan mengapa bahasa belanda yang terpilih sebagai penggantinya. Bagi Soewardi masalah bahasa bukanlah  persoalan semata-mata, melainkan juga merupakan masalah nasional yang penting. Ia sangat setuju dengan keinginan Menteri Tanah Jajahan yang mengatakan  ‘pengajaran disana haruslah dipribumikan’. Maksudnya bahwa sekolah Hindia menyiapkan murid-muridnya untuk masyarakat Hindia.Untuk mempribumikan pengajaran ini, perlu ditetapkan salah satu dari bahasa-bahasa Bumiputera menjadi bahasa pengantar. Suwardi menyebut bahasa Melayu menjadi bahasa pengantar karena paling tepat dan menjadi lingua franca di kepulauan Nusantara . Dibanding dengan bahasa lain di Nusantara, bahasa Melayu adalah yang paling tepat diterima, karena bahasa itu bentuknya amat mudah, mengenal ungkapan-ungkapan yang hidup, kuat dan berisi disamping kaya akan kata-kata, mudah pula menyesuaikan diri kepada pikiran-pikiran dan keadaan- keadaan baru. Sebagai ahli sastra Jawa ia mengetahui benar bahasa Jawa tidak memenuhi syarat sebagai bahasa pengantar karena sulit dipelajari dan terlalu erat hubungannya dengan keadaan adat dan kebiasaan setempat.
Dampak pemikirannya tentang bahasa Indonesia digunakan sebagai pengantar di sekolah bumi putera kemudian menjadi saran dan diterapkan di sekolah-sekolah nantinya. Gagasannya tentang pendidikanharus bersifat pribumi danmempertahankan integritas kebudayaan yang konsekuen serta menahan pengaruh kebudayaan asingini kemudian menambah semangatnya dalam usaha merintis cita-citanya untuk melahirkan sebuah sekolah.
Kembali Ke Tanah Air: Ki Hajar Dewantara Dan Taman Siswanya
Soewardi kembali ke Indonesia pada bulan September 1919.Segera kemudian ia bergabung dalam sekolah Adi Dharma binaan kakaknya, Suryapranoto. Pengalaman mengajar ini kemudian digunakannya untuk mengembangkan konsep mengajar bagi sekolah yang ia dirikan pada tanggal 3 Juli1922: Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa. Taman siswa hadir sebagai dampak pemikirannya mengenai pendidikan yang bersifat pribumi sejak ia berada di Belanda. Konsep pendidikan Soewardi adalah pendidikan yang memerdekakan lahir batin di mana pendidikan dijadikan sebagai alat untuk memerdekakan bangsanya.
Sebelum mendirikan Sekolah, Soewardi bergabung di Paguyuban Selasa kliwon yang berkedudukan di Yogyakarta.Ia mendiskusikan banyak hal yang berhubungan dengan usaha-usaha menaikan derajat dan martabat bangsa Indonesia (menuntut emansipasi). Dalam berbagai diskusi inilah para anggota Paguyuban Selasa Kliwonan mendapatkan kesimpulan bahwa Indonesia merdeka mustahil dapat tercapai  jika di dalam diri setiap bangsa Indonesia tidak tertanam jiwa merdeka.Dan disimpulkan juga bahwa salah satu hal untuk membangun adanya jiwa merdeka dalam diri masyarakat Indonesia adalah dengan pendidikan.Ia yang ditugasi paguyuban Selasa kliwonan untuk menggarap jiwa merdeka anak-anak pun mendirikan sebuah perguruan nasional yang dinamakan Taman Siswa sekaligus menciptakan metode sistem among yang berjiwa pendidikan nasional.
Selain berdasarkan cita-cita yang luhur tersebut, kelahiran perguruan Taman Siswa disebabkan karena keadaan pendidikan dan pengajaran pada waktu itu sangat kurang dan sangat mengecewakan.Seperti yang kita ketahui, sesudah Pemerintah Kolonial melaksanakan politik etis, jumlah sekolah yang didirikan bertambah banyak. Akan tetapi walaupun demikian jumlah sekolah disbanding dengan jumlah anak usia sekolah  masih sangat jauh dari cukup. Lagipula sekolah-sekolah tersebut dimaksudkan untuk memenuhi kepentingan kolonial, baik dalam bidang politik, ekonomi, maupun administrasi.Jadi berdirinya Taman Siswa murni ditujukan untuk kepentingan rakyat Indonesia.Berdirinya Taman Siswa pun tidak terlepas dari bantuan kakak kandungnya, Suryapranoto yang memberikan modal kepada Soewardi berupa murid-murid dan bangku sekolah.
Karena ia menginginkan kesejahteraan, meninggikan derajat, dan persamaan kedudukan dalam masyarakat didalam tujuan akhir usaha pendidikannya dan yang paling penting adalah mendidik bangsa sendiri adalah sama saja dengan menemukan jati diri sendiri dan menciptakan manusia merdeka lahir dan batin yang berorientasi dalam kekuatan kebudayaan sendiri, kerakyatan, kepercayaan kepada kekuatan diri sendiri untuk tumbuh. Pemikirannya terhadap pendidikan kerakyatan ini muncul karena pendidikan yang sangat sulit dicapai oleh kebanyakan rakyat Indonesia pada saat itu.
Taman Siswa sebagai hasil dari pemikiran Ki Hadjar Dewantara ini, mulai mengesampingkan pendekatan politik dalam menjalankan pergerakan kemerdekaan.Usaha untuk mendidik angkatan muda dalam jiwa kebangsaan merupakan bagian penting pergerakan kemerdekaan Indonesia dan dianggap merupakan dasar perjuangan untuk meninggikan derajat rakyat.[3]
Saat ia genap berusia lima windu atau 40 tahun menurut hitungan penanggalan Jawa.Pada 23 Februari 1928ia mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara. Ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya.Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun jiwa.
Selain pendidikan, Ki Hajarmenaruh perhatian besar terhadap persoalan wanita. Pemikirannya tertuang ketika pada tahun 1928 ia menulis sebuah artikel yang menjelaskan bahwa pada zaman itu wanita di dunia Barat sedang bergerak dan berusaha mendapatkan hak persamaaan dengan kaum pria. Menuntut emansipasi dalam segala hal.Misalnya menghendaki persamaan dalam hal pakaian, kesenangan hidup, pekerjaan dan lainya. Namun Ki  Hajarjuga memiliki pandangan tidak setuju dengan emasipasi wanita tersebut. Menurutnya, wanita yang menuntut emansipasi tersebut merupakan wanita yang lupa akan kodratnya Karena pada dasarnya wanita ditakdirkan menjadi ibu, memelihara dan mendidik anak. Menurutnya adapun persamaan pria dan wanita yakni persamaan hak, persamaan derajat dan persaman harga, bukan persamaan sifat hidup dan penghidupannya. Oleh sebab itu, ia berpesan agar kaum wanita di Indonesia janga tergesa-gesa meniru cara modern bangsa Barat.
Mengenai masalah kebudayaan, Ki Hajar berpandangan bahwa kebudayaan adalah buah budi manusia yang beradab.Kebudayaan juga merupakan buah perjuangan manusia terhadap dua kekuatan yang selalu mengelilingi kita.Adapun dua kekuatan itu adalah kodrat alam dan jaman masyarakat tiap bangsa. Ki Hajar menjelaskan bahwa sifat kebangsaan berarti kemerdekaan bangsa seutuhnya , tidak hanya merdeka politik namun merdeka kebudayaan. Tidak ada gunanya mengejar dan mencapai kemerdekaan poilitik kalau dalam kebudayaan masih mengekor bangsa lain. Maka itu, Ki Hajar cenderung bersifat anti asing atau anti barat dan lebih mencintai budaya bangsanya sendiri.


Referensi Pendukung:
Scherer, Savitri. 2012. Keselarasan dan Kejanggalan : Pemikiran-pemikiran priyayi nasionalis Jawa. Jakarta:komunitas Bambu.
Surjomihardjo, Abdurrachman.1986.Ki Hadjar Dewantara dan Taman Siswa dalam Sejarah Indonesia Modern.Jakarta:Sinar Harapan.


[1]Savitri Scherer, Keselarasan dan Kejanggalan : Pemikiran-Pemikiran Priyayi Nasionalis Jawa (Jakarta:komunitas Bambu, 2012),  Hlm. 48
[2] Ibid., Hlm. 68
[3] Surjomihardjo, Abdurrachman. Ki Hadjar Dewantara dan Taman Siswa dalam Sejarah Indonesia Modern.  Jakarta:Sinar Harapan. 1986 hlm 71

ISLAM DI FILIPINA SELAMA KOLONIALISME BARAT

Oleh: Eka Sari Handayani




Pendahuluan
Populasi muslim di Filipina adalah minoritas (4 sampai 7 persen) dalam suatu Negara di Asia Tenggara yang didominasi oleh pemeluk kristen.[1] Islam di Filipina terkonsentasi di Kepulauan Filipina Selatan. Pemeluk Islam atau Muslim di Filipina biasanya dikenali sebagai masyarakat Moro.
Dalam paper ini pembahasannya dimulai dari gambaran umum keberadaan Islam di Filipina, kemudian kolonialisasi oleh bangsa Barat yang berdampak terhadap perkembangan Islam di Negara tersebut. Sebagaimana diketahui, Filipina menghadapi dua kali masa penjajahan, yaitu pertama, Filipina merupakan koloni Spanyol selama 300 tahun, kedudukan ini kemudian diganti oleh Amerika selama 48 tahun.[2]
Dengan pembahasan tersebut, maka diharapkan dapat diperoleh pengetahuan mengenai sejarah Islam di Filipina berikut latar belakang dan perkembangannya sejak awal masuknya Islam di Filipina yang kemudian akibat adanya agresi Barat membuat Islam di Filipina menjadi agama minorias.

Islam Sebagai Identitas Awal Filipina
Lokasi geografis Filipina menyebabkan secara berangsur ditarik ke dalam perdagangan maritime internasional yang membentang dari Laut Merah ke Laut Cina. Sampai abad ke 16 perdagangan ini dikontrol oleh saudagar islam. Pedagang-pedagang Islam diketahui telah mengunjungi Kalimantan, menetap di Sulu dan sering singgah di Fipina dalam perjalanan menuju Cina.[3] Jauh sebelum kedatangan Bangsa Barat, penduduk Filipina sudah memeluk agama Islam. Agama Islam dapat masuk dan diterima dengan baik oleh kerajaan-kerajaan dan penduduk setempat setidaknya karena ajaran Islam dapat mengakomodasi berbagai tradisi yang telah mendarah daging di hati mereka. Islam terus memperluas pengaruhnya secara cultural yaitu dengan melalui perkawinan antar etnis hingga akhirnya melalui system politik. Jalur yang terakhir ini (politik) terjadi ketika Islam telah dipeluk oleh para penguasa khususnya para raja.[4]Pemeluk Islam atau Muslim di Filipina biasanya dikenali sebagai masyarakat Moro[5]. Mereka umumnya berdiam di Pulau Mindanao (pulau kedua terluas di Filipina), Kepulauan Sulu, Palawan, Basilan, dan pulau-pulau sekitarnya. Secara geografis, gugusan pulau-pulau ini berada di selatan Filipina, sedangkan bagian utara negeri ini adalah gugusan Kepulauan Luzon. Jadi, Islam dapat dikatakan sebagai agama yang menjadi pertama kali masuk ke Filipina dan menjadi identitas awal Filipina. 

Kolonisasi Oleh Spanyol
Bangsa Spanyol merupakan bangsa Eropa pertama yang berhasil mendarat di Filipina. Kedatangan orang-orang Spanyol di Filipina tahun 1565 bermaksud untuk mendirikan koloni dan memasukan penduduknya dalam agama Kristen, yang kemudian menjadi hal ancaman penting dalam menghalangi penyebaran Islam selanjutnya ke Utara dari Kalimantan, dan ke selatan Filipina arah Luzon dan Kepulauan Visayan. Sejak saat itu, penyebaran Islam terbatas sampai ke kepulauan Suludan Mindanao di Sebelah Barat.[6] Dengan kekerasan, persuasi atau menundukkan secara halus dengan hadiah-hadiah, orang-orang Spanyol dapat memperluas kedaulatannya hampir ke seluruh wilayah Filipina. Kita ketahui proes islamisasi di seluruh Filipina secara tiba-tiba dihentikan dengan kedatangan Spanyol dari Utara. Akibatnya, Islam tidak memiliki kesempatan unuk berkembang secara penuh dan mendapatkan akarnya di bagian-bagian lain kecuali Filipina bagian selatan dan beberapa pantai di Negara tersebut. [7]Tentara kolonial Spanyol harus bertempur mati-matian melawan kesultanan Islam di wilayah selatan Filipina, yakni Sulu, Manguindanau dan Buayan. Selama tiga abad terjadi pertempuran antara orang-orang Spanyol dengan orang-orang Moro.[8] Rentetan peperangan yang panjang antara Islam dan Spanyol hasilnya tidak nampak kecuali bertambahnya ketegangan antara orang Kristen dan orang Islam Filipina. Selama masa kolonial, Spanyol menerapkan politik pecah belah serta misi suci Kristenisasi terhadap orang-orang Islam. Bahkan orang-orang Islam di-stigmatisasi (julukan terhadap hal-hal yang buruk) sebagai "Moor" (Moro). Artinya orang yang buta huruf, jahat, tidak bertuhan dan huramentados (tukang bunuh). Sejak saat itu julukan Moro melekat pada orang-orang Islam yang mendiami kawasan Filipina Selatan tersebut. Tahun 1578 M terjadi perang besar yang melibatkan orang Filipina sendiri. Bangsa Spanyol juga melakukan inkuisisi yang buruk terhadap orang-orang muslim di semenanjung Iberia. Mereka menyerang karajaan muslim Sulu, Manguindanau dan Manilad dengan fanatisme dan keganasan yang sama seperti mereka memperlakukan penduduk muslim mereka sendiri di Spanyol. Bahkan Raja Philip memerintahkan Kepala Staf Angkatan Lautnya sebagai berikut: “Taklukkan pulau-pulau itu dan gantikan agama penduduknya (ke agama Katolik)”. Menghadapi latar belakang seperti ini, orang-orang muslim Filipina (bangsa Moro) harus berjuang bagi kelangsungan hidupnya sampai saat ini, lebih dari empat abad. Spanyol tidak pernah dapat menaklukkan kesultanan Islam Sulu walaupun dalam keadaan perang terus menerus, dan harus mengakui keberadaannya yang merdeka.[9]

Filipina Dibawah Imperialisme Amerika Serikat
Sekalipun Spanyol gagal menundukkan Mindanao dan Sulu, Spanyol tetap menganggap kedua wilayah itu merupakan bagian dari teritorialnya. Spanyol kemudian menjual Filipina kepada Amerika Serikat seharga US$ 20 juta melalui Traktat Paris.Amerika datang ke Mindanao dengan menampilkan diri sebagai seorang sahabat yang baik dan dapat dipercaya. Pada tahun 1896, Presiden Mc. Kinley dari AS memutuskan untuk menduduki Filipina untuk “mengkristenkan dan membudayakan” rakyat sebagaimana ia ajukan. Amerika datang ke Mindanao dengan menampilkan diri sebagai seorang sahabat yang baik dan dapat dipercaya. Hal ini dibuktikan dengan ditandatanganinya Traktat Bates (20 Agustus 1898) yang menjanjikan kebebasan beragama, kebebasan mengungkapkan pendapat, kebebasan mendapatkan pendidikan bagi Bangsa Moro. Amerika berhasil menduduki jajahan Spanyol ini pada tahun 1899, namun mendapatkan perlawanan dari Negara muslim Sulu. Traktat tersebut ternyata hanya taktik mengambil hati orang-orang Islam agar tidak memberontak, karena pada saat yang sama Amerika tengah disibukkan dengan pemberontakan kaum revolusioner Filipina Utara pimpinan Emilio Aguinaldo. Terbukti setelah kaum revolusioner kalah pada 1902 M, kebijakan AS di Mindanao dan Sulu bergeser kepada sikap campur tangan langsung dan penjajahan terbuka. Setahun kemudian (1903 M) Mindanao dan Sulu disatukan menjadi wilayah propinsi Moroland dengan alasan untuk memberadabkan (civilizing) rakyat Mindanao dan Sulu. Periode berikutnya tercatat pertempuran antara kedua belah pihak. Kesultanan Sulu jatuh ke tangan Amerika pada tahun 1914. Pada tahun 1915, Raja (Sultan) Muslim dipaksa turun tahta, tetapi diakui sebagai ketua komunitas muslim. Hanya pada April 1940 Amerika menghapuskan Kesultanan Sulu dan menggabungkan bangsa Moro ke dalam Filipina.[10]
Selama periode 1898-1902, AS ternyata telah menggunakan waktu tersebut untuk membebaskan tanah serta hutan di wilayah Moro untuk keperluan ekspansi para kapitalis. Bahkan periode 1903-1913 dihabiskan AS untuk memerangi berbagai kelompok perlawanan Bangsa Moro. Namun Amerika memandang peperangan tak cukup efektif meredam perlawanan Bangsa Moro, Amerika akhirnya menerapkan strategi penjajahan melalui kebijakan pendidikan dan bujukan. Kebijakan ini kemudian disempurnakan oleh orang-orang Amerika sebagai ciri khas penjajahan mereka. Kebijakan pendidikan dan bujukan yang diterapkan Amerika terbukti merupakan strategi yang sangat efektif dalam meredam perlawanan Bangsa Moro. Sebagai hasilnya, kohesitas politik dan kesatuan diantara masyarakat Muslim mulai berantakan dan basis budaya mulai diserang oleh norma-norma Barat. Pada dasarnya kebijakan ini lebih disebabkan keinginan Amerika memasukkan kaum Muslimin ke dalam arus utama masyarakat Filipina di Utara dan mengasimilasi kaum Muslim ke dalam tradisi dan kebiasaan orang-orang Kristen. Seiring dengan berkurangnya kekuasaan politik para Sultan dan berpindahnya kekuasaan secara bertahap ke Manila, pendekatan ini sedikit demi sedikit mengancam tradisi kemandirian yang selama ini dipelihara oleh masyarakat Muslim.


Kesimpulan
Jauh sebelum kedatangan Bangsa Barat, penduduk Filipina sudah memeluk agama Islam. Agama Islam dapat masuk dan diterima dengan baik oleh kerajaan-kerajaan dan penduduk setempat setidaknya karena ajaran Islam dapat mengakomodasi berbagai tradisi yang telah mendarah daging di hati mereka.
Mayoritas penduduk Filipina yang beragama kristen tidak luput dari konteks historis Filipina pernah menjadi tanah jajahan Spanyol dan AS. Kemudian kedua bangsa tersebut memberlakukan kristeniasasi kepada penduduk asli Filipina. Hingga Islam menjadi terancam persebarannya, Islam menjadi agama minoritas. Meskipun Islam menjadi minoritas, terdapat wilayah yang yang menjadikan Islam sebagai agama mayoritas yaitu di Filipina bagian Selatan.Perlu perjuangan untuk menjadikan Islam sebagai agama mayoritas disana.Banyak Negara yang menjajah negera itu seperti Spanyol dan Amerika, selain menjajah mereka juga sebagai misionaris yang mempersulit untuk berkembangnya agama Islam. Dengan perjuangan dan persatuan yang tinggi membuat Negara Filipina wilayah selatan penduduknya merdeka dari penjajah dan misionaris. Kolonialisasi di Filipina oleh Amerika Serikat pun berakhir. Filipina mendapat kemerdekaannya pada tahun 1946. Bangsa Moro yang minoritas kemudian kurang bisa mengintegrasikan ke dalam Pemerintahan Filipina.Cenderung terisolir, karena tiga hingga sepuluh kelompok etnis muslim minoritas di Filipina Selatan dipisahkan oleh hambatan-hambatan geografis dan linguistic dengan penduduk di Filipina Tengah dan Utara.



DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Taufik & Sharon Siddique.1988. Tradisi dan Kebangkitan Islam di Asia Tenggara.Jakarta: LP3ES
Azra, Ayumardi. 1989. Perspektif Islam di Asia Tenggara. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
 A.Majul, Caesar .Dinamika Islam Filipina .1989. Jakarrta: LP3ES
Hefner, Robert dan Patricia Horvatich. 2001.Islam di Era Negara- Bangsa (Politik dan Kebangkitan Agama Muslim di Asia Tenggara).  Yogyakarta: PT. Tria Wacana Yogya
M. Ali, Kettani.2005. Minoritas Muslim Dewasa Ini .Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Musa,Kustianah.1988. Geografi Asia Tenggara . Jakarta: Depdibud
Reid, Antony.2004. Sejarah Modern Awal Asia Tenggara. Jakarta,: LP3ES



[1] Robert Hefner dan Patricia Horvatich, Islam di Era Negara- Bangsa (Politik dan Kebangkitan Agama Muslim di Asia Tenggara), Hlm. 57
[2] Kustianah Musa, Geografi Asia Tenggara (Jakarta: Depdibud, 1988), Hlm.65
[3] Caesar A. Majul, Dinamika Islam Filipina (Jakarrta: LP3ES), Hlm. 9
[4] Antony Reid, Sejarah Modern Awal Asia Tenggara (Jakarta, Pustaka LP3ES Indonesia, 2004) Hlm. 37
[5] Sejumlah literatur menyebutkan, istilah 'Moro' merujuk kepada kata Moor, Mariscor, atau Muslim. Kata Moor berasal dari istilah latin, Mauri, sebuah istilah yang sering digunakan orang-orang romawi kuno untuk menyebut penduduk wilayah Aljazair barat dan Maroko.
[6] Caesar A. Majul. Loc.Cit
[7] Taufik Abdullah & Sharon Siddique, Tradisi dan Kebangkitan Islam di Asia Tenggara (Jakarta: LP3ES,1988),  Hlm. 346
[8] Ayumardi Azra, Perspektif Islam di Asia Tenggara ( Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1989), Hlm. 9
[9]  Kettani M Ali, Minoritas Muslim di dewasa ini (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,2005), Hlm 195.
[10] Ibid., hal. 196
Powered By Blogger