Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 November 2014

UNTUK SELURUH BURUH


Teruntuk buruh yang menuntut upah tinggi, gemar memblokade jalan, berniat akan mogok kerja di pabrik tempatnya bekerja,  : 

"Ketika buruh tuntut upah mewah. 
Menggeber motor dengan pongah. 
Guru honorer pun tertawa Hahahah.
Laku sifat kok serakah?"

-25 November 2014-
( Eka Sari Handayani)


Senin, 16 Juni 2014

WAKTU PAGI



:: Selepas subuh  waktu pagi
Ku duduki kursi beranda rumah
Di sekitar hanya belukar
Ada perdu yang rimbun
Mesra dengan embun

Wangi tanah kuhirup berbekas hujan semalam
Segar, bebauan alam
Tiada racun karbon monooksida yang mencemar
Ku hirup lagi,
Tiada polutan sulfur oksida yang menjalar

Gusti Allah, waktu pagi amat surgawi
Esoknya, ku cumbui suasana ini lagi 
Lalu aku lupa pada elegi…



SENJA



Matahari sudah menua
Ku intip itu dari jendela tua

Matahari sudah menua
Ku intip itu di ufuk
Semburat tinta emas sempurna

Matahari sudah menua
Ada paras rupawan dari jingga hingga tosca
Terlukis manja di angkasa

Setempo saja, sayup-sayup disapu gelap.
Kemana perginya senja? 

Kamis, 09 Januari 2014

BARANGKALI, BUNG...

Barangkali, Bung…
Aku butuh lebih dari sewindu untuk menghapus sisa-sisa rindu…
Membeku pikiran agar segurat wajah itu tak menjadi candu…


Barangkali, Bung...
Aku seharusnya berada di puncak semeru, memacu endorfin agar menderu…
Membunuh sendu yang mengepul, menggilasnya menjadi abu...


-090114-
Eka Sari Handayani

Sabtu, 21 Desember 2013

EEN BRIEF VOOR JOU!

Untuk R,
Kawan digitalku yang selalu mesra dengan buku dan pena 
 
Di linimasa, kau tuangkan gagasan, lagi kritik
Menyirat wawasan di kepalamu tak sedikit
Kagumku semakin meninggi, biusnya begitu menjalar
Opini brilianmu kau letupkan dalam tulisan, lagi analisamu tajam juga gahar

Kau  yang tak tergapai, dan tak sampai karena tangan ku begitu dangkal
Sudah menahun ternyata kita berdua berkomunikasi virtual

Semoga ada hari agar kita bertemu muka untuk sekedar berdialektika
Berdiskusi menyoal apa saja, tak terasa tahu-tahu sudah senja
Saling mengobrol santai seperti di Pantai
Berbagi olah pikir tanpa ada rasa nyinyir

Dari aku,
Aku yang diam dalam kagum

Selasa, 29 Oktober 2013

KALEIDOSCOPE


Tiga tahun lalu, aku baru menjadi mahasiswa. Tergabung sebagai kaum intelektual, katanya. Meskipun pada kenyataannya aku hanya seorang biasa yang senang bercengkrama dengan sesama bukan menjadi aktivis muda yang  suka dipuja. Aku lebih suka diskusi meskipun bicara soal harga terasi daripada berlagak untuk orasi.
                                                                        ***
Di selasar Fakultas Ilmu Sosial UNJ. Aku pertama kali melihatmu, sesosok lelaki sederhana berambut gondrong sebahu, berkacamata, berperingai diam nampaknya tak suka bercerita. Tidak angkuh. Hanya jarang tertawa. Belakangan baru kuketahui, kita dalam satu jurusan dan program studi yang sama.
                                                                        ***
Di kelas mata kuliah sejarah Afrika. Kita ditakdirkan  untuk satu semester bersama meskipun disaat itu kita angkatan yang berbeda, aku satu tahun lebih muda dari usia mu yang lebih tua. Ku lihat di daftar absen mahasiswa ternyata namamu Miftahul Huda. Sorenya, ku cari namamu di dunia maya. Yang kemudian menjadi tempat kita saling menyapa .
                                                                        ***
Aku ingat tempat pertama kali aku kencan dengan dirimu. Bukan di ruang tamu. Tapi di toko buku tempat gudangnya ilmu. Setelah itu kita ngopi tapi bukan karena dijamu sebagai tamu, tapi di kedai starbucks aku ditraktir olehmu. Kita mengobrol tanpa jemu. Ternyata aku sadar, aku suka melihat matamu. Diam-diam aku jatuh cinta padamu.
                                                                        ***
Setelah pulang kuliah. Hari itu, hari Jumat. Hari yang buat aku semangat. Karena kau bilang ingin lebih dekat tanpa ada sebuah sekat.
Kau mengajakku pulang bersama dengan tunggangan kendaraan roda dua. Di Taman Menteng, kau berucap rindu, aku tak percaya. Menghadiahkanku boneka koala dengan ucapan cinta yang sekedarnya saja. Ah, nirwana!
***
Selang beberapa bulan kita menjalin asmara, ternyata dilanda sebuah perkara. Setelah bertemu di satu acara. Mamamu bilang, dia kurang selera dengan perempuan yang kamu pelihara. Mungkin mamamu ingin perempuan juara, kalau bisa yang cantik seperti artis Korea. Setelah kamu bercerita, aku hanya diam tak bersuara. Shock seperti baru masuk penjara.


Powered By Blogger